Itu Cuma Seekor Kucing

Tadinya bukan ini topik tulisan yang mau gua tulis, tapi baru tadi pagi banget gua nemuin kucing gua udah mati terbujur kaku di bawah meja makan. Jadi gua mau nulis tentang kucing yang emang punya kedekatan lebih buat gua. Lebih dari sekedar hewan peliharaan.

Gua dan keluarga gua terhitung pernah punya 4 kucing yang kami rawat di rumah. Kucing pertama yang gua dan keluarga gua rawat itu gua ga tau jenisnya kucing apa sih, tapi dari motif bulunya gua tau kalau itu bukan kucing kampung biasanya. Kucing itu dapet dari butik orang tua gua, dia tiba-tiba dateng masuk dan main-main disana. Terus, karena orang tua gua liat ini kucing bagus dan ga ada yang ngurus, jadi dia bawa itu kucing pulang buat dirawat sama gua dan adek gua. Itulah gimana gua, adek gua, dan orang tua gua menambah anggota keluarga yang tadinya cuma berempat, jadi berempat setengah karena ditambah kucing. Kucing itu punya nama Katy, nama yang asalnya dari gua dan itu gua ambil dari kata dasar cat yang tadinya gua kira itu kucing betina jadilah dia namanya Katy, tapi ternyata dia jantan.

Keluarga gua terutama gua dan Katy punya banyak memori dan kenangan yang baik. Kami semua bergantian mengurus Katy sampai akhirnya dia jadi kucing berandalan yang bagus secara fisik. Dia memang bukan kucing kampung tapi karena kami tinggal di daerah yang lebih banyak kucing kampung jadilah Katy terbawa arus dan jadi berandalan juga. Ribut, ngerang-ngerang, rebutan betina, semuanya Katy jabanin karena dia juga mungkin ga mau kalah ya. Katy punya hidup yang lama di rumah gua, dia datang pas gua masuk SMP dan mati pas gua masuk SMA. 6 tahun kira-kira waktu yang keluarga gua habiskan bareng sama Katy. Kalau Katy itu manusia, dia sebentar lagi masuk SD. Dan pas dia mati, keluarga gua terutama adek gua yang emang tumbuh nya bareng sama Katy merasakan sedih ditinggal saudara. Rasanya kaya kehilangan saudara, kehilangan anggota keluarga yang selama 6 tahun kebelakan selalu nemenin setiap harinya.

Setelah Katy mati keluarga gua ga ngerawat kucing lagi karena gua ga mau ketika nanti si kucing baru ini mati. Sampai akhirnya adek gua bersedia ngerawat anak kucing dari saudara gua yang baru belum lama melahirkan. Keluarga kami sekali lagi kedatangan kucing, kali ini dua sekaligus. Dua kucing putih tanpa motif lain yang dikasih nama Puti dan Putu. Sama kaya Katy, Puti Putu juga gua yang kasih namanya, Puti diambil dari warnanya yang putih dan Putu yang putih tulang. 

Puti dan Putu bener-bener kaya saudara kembar yang kemana-mana mereka berdua, bercanda berdua, makan berdua, tidur pun berdua. Banyak keseruan yang dirasakan bareng sama Puti dan Putu tapi sayangnya Putu ga hidup lama. Dia mati karena terlindas motor dan ironisnya, gua yang ngelindes Putu secara ga sengaja. Dan itu bikin gua ngerasa kalau gua yang bunuh si Putu. Sekali lagi gua dan keluarga gua kehilangan kucing. Setelah Putu mati, dateng lagi kucing baru dari induk yang sama, si Item. Item karna bulunya yang dominan warna hitam. Si Item sukses jadi anggota baru keluarga gua sampe jadi favoritnya orang tua gua. Dia kucing yang aktif di rumah tapi cemen di luar, kucing yang banyak penasaran sampai dia bisa nunggu mamah nyuci, nunggu cuma duduk sambil liatin mamah nyuci. Item juga sukses jadi teman main dan bercanda si Puti. Mereka bercanda, lari-larian, manjat-manjat, dan ngelakuin hal-hal yang bikin kami yang liat betah buat duduk dan liatin mereka. 

Tapi Item juga ga hidup lama, pagi ini dia mati karena sakit. Dia mati di dapur dengan badan yang udah kaku. Dan gua sekali lagi yang pertama kali liat si Item mati. Sangat-sangat bikin gua kembali inget sama Putu. Item semasa hidup jadi kucing yang bagus, bulu yang lebat, badan yang gemuk, mukanya yang bikin gemes, bikin kita mau ajak main seharian.

Kami semua kehilangan Item, Putu, Katy udah kaya kehilangan anggota keluarga. Kami, terutama gua sedih. Dan kalau ada orang yang bilang "ga usah berlebihan sih, toh itu cuma kucing," gua ga ngerasa dia pernah kehilangan sesuatu yang berharga.