(Ilustrasi: Aksara Wiweka/M. Aulia Ikhsan)
Hai, terimakasih sudah mengklik tulisan ini dan membaca. Saya hanyalah seorang mahasiswa UNIS yang biasa-biasa saja, namun saya menulis ini dengan sepenuh hati. Semoga dapat memberi kesan pada kalian.
Virus corona atau Covid-19 yang kita tau bersama sudah masuk ke Indonesia sejak Februari lalu sudah memakan banyak korban. Sampai tulisan ini dibuat aja sudah 52 ribu pasien positif. Gimana ga banyak yang positif, vaksin Covid-19 pun sampai sekarang belum ditemukan. Dan karena hal itu, WHO menyarankan untuk bisa beradaptasi dengan Covid-19, dan dicetuskan New Normal.
Begitupun di Indonesia. Disini juga sudah mulai dipersiapkan untuk new normal karena berbagai alasan. Terutama desakan ekonomi yang menjadi alasan banyak masyarakat keluar saat diberlakukannya PSBB. New normal di Indonesia dibagi menjadi beberapa tahap yang sudah dimulai sejak awal Juni kemarin. Tahapan akhir dari skenario new normal pemerintah adalah dibukanya seluruh kegiatan ekonomi pada akhir Juli atau awal Agustus.
Namun entah kenapa, saya merasa bahwa masyarakat tidak menerapkan "new" dalam kenormalan mereka. Masih banyak ditemukan masyarakat yang keluar tidak mengenakan masker, atau bahkan ada tempat usaha yang tidak memfasilitasi tokonya sesuai dengan protokol yang seharusnya. Dan hal itu membuat saya bertanya-tanya. Apakah sudah saatnya diberlakukan new normal? Apakah masyarakat sudah diberikan pengertian tentang new normal itu sendiri? Apakah masyarakat sudah sepenuhnya mengerti dengan apa yang dihadapi saat ini? Karena pada kenyataannya, masyarakat saat ini hanya sudah terbiasa dan mulai menganggap sepele.
Miris memang jika dilihat keadaan saat ini. Pemerintah dan masyarakat seolah tidak pernah akur. Pemerintah membuat suatu kebijakan, masyarakatnya tidak memperdulikan. Padahal, menurut saya yang dilakukan masyarakat pun tidak lebih benar dari apa yang dilakukan pemerintah. Bukan maksud membela pemerintah karna memang, kebijakan yang dikeluarkan tidak sejalan dengan apa yang diterapkan. Namun jika masyarakat terus melakukan apa yang mereka mau, sampai kapanpun Covid-19 tidak akan selesai.
Menurut asumsi pribadi saya, apa yang masyarakat lakukan karena mereka tidak sepenuhnya mengerti tentang Covid-19. Terutama masyarakat menengah kebawah, yang hanya mendapatkan informasi melalui televisi. Mereka hanya mendapat sedikit pengertian tentang Covid-19 dari televisi, tidak secara menyeluruh, dan diantara mereka pun tidak sedikit yang menyepelekan Covid-19 pada akhirnya.
Kenapa mereka tidak mendapatkan pengertian dari media lain karena akibat dari Covid-19 adalah terbatasnya interaksi yang dapat dilakukan. Sehingga menyulitkan untuk melakukan penyuluhan ke daerah-daerah yang bisa dibilang tertinggal.
Jika dilihat dari tingkat kesadaran masyarakat tentang Covid-19, new normal belum saatnya diberlakukan di Indonesia. Karena dengan pemberlakuan new normal, masyarakat hanya akan kembali ke normal mereka yang lama dan menganggap bahwa pandemi sudah selesai. Akhirnya? Bisa dilihat bahwa sejak diberlakukannya new normal, kurva pasien positif Covid-19 terus melonjak hingga penambahan pasien positif lebih dari 1000 dalam sehari menjadi hal yang biasa.
Memang, penambahan pasien positif bukan hanya bertambahnya pasien yang baru terinfeksi. Namun juga bisa karena pasien yang sudah terinfeksi sejak lama baru terdeteksi, atau juga bisa dikarenakan karena penambahan spesimen tes. Namun apa yang dilakukan masyarakat saat ini membuat saya khawatir jika nantinya, ini yang akan memperparah keadaan atau malah memicu gelombang kedua.
Menurut saya, new normal baru akan berhasil jika masyarakat sudah sadar dan siap akan apa yang dihadapi. Dan untuk itu, mari kita bersama memberikan pengertian kepada masyarakat agar mereka dapat mempersiapkan diri dengan benar untuk new normal.
Semoga Anda dapat mengambil sesuatu dari tulisan saya ini. Terimakasih untuk yang sudah membaca sampai akhir. Saya berharap mendapatkan kritik yang membangun dari Anda. Sekian, semoga dipertemukan dalam tulisan lain.
