Namaku ikhsan, seorang anak dari keluarga yang bisa dibilang normal. Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Tangerang. Seorang yang biasa-biasa saja, bukan seorang yang jenius, bukan seorang yang terlalu baik bahkan bisa dibilang tidak terlalu baik.
Sejak dulu banyak orang yang memanggil ku pendiam, kalem, dan sebagainya yang sebenarnya tidak ada masalah apa-apa. Namun akhir-akhir ini aku mempertanyakan apakah itu adalah hal yang baik atau tidak, apakah ada batasannya, apakah bisa diubah.
Dulu, aku adalah seorang anak yang bisa dikatakan aktif. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa aku kehilangan diriku yang aktif, dan berubah menjadi pribadi yang tertutup. Bahkan dengan keluarga sendiri. Lama aku pikirkan apa yang membuatku seperti ini dan masih tidak menemukan jawabannya.
Mungkin, apa yang membuatku seperti ini karena pengaruh lingkungan dan mentalku yang belum sepenuhnya stabil. Saat aku masih aktif dulu, banyak orang yang terlihat terganggu, tidak banyak orang yang mau berteman denganku. Saat SMP, saat teman-teman seusia ku sedang masa-masanya curhat, aku tidak memiliki teman curhat yang membuat aku hanya bisa memendam. Tapi tidak masalah pada saat itu, toh tidak ada masalah berarti pada saat itu. Aku hanya sedikit iri dengan teman sebaya yang bisa memiliki teman dekat, iri dengan mereka yang dengan mudah bisa berteman dengan siapa saja, merasa perihatin dengan diriku sendiri yang penyendiri. Hal itu terus melekat hingga SMA bahkan hingga lulus. Membuatku semakin pendiam, memendam, meledak, dan bingung akan apa yang aku rasakan.
Aku adalah seorang yang tidak peka, bahkan terhadap apa yang aku rasakan dalam hati. Aku adalah makhluk hidup yang tidak sempurna karena tidak memenuhi ciri-ciri makhluk hidup, peka terhadap rangsang. Ketidak-pekaan ku sampai pada tahap yang meresahkan, hingga membuat orang yang sangat aku sayangi merasa tersakiti.
Aku bertemu dengan seorang perempuan yang cantik, baik, sabar, kuat, terlihat ceria, pintar, dan segala hal baik lainnya. Ia, sudah berada di lingkungan yang dekat denganku sejak awal kuliah, namun baru satu setengah tahun kami menjalin hubungan. Hubungan yang semoga berjalan baik hingga nanti. Namun berkat ketidak-pekaan, bebal, emosional ku, aku membuat dia (sekali lagi) merasa ketakutan. Dan kali ini lebih parah.
Aku membuatnya menangis ketakutan, aku sekali lagi membuatnya menangis. Hal itu, dan segala kekurangan ku membuatku berpikir apakah pantas aku bersamanya? Apakah aku bisa menjadi lebih baik lagi? Apakah ia mau menerima kekuranganku?
Aku tak tau, tapi dari lubuk hati yang paling dalam, aku berharap yang terbaik untuk kamu dan untuk kita.