PULANG
“Udah 22 tahun nikah masih ga becus ngurus suami
sendiri!!”
“Berisik ya! Nihh lagi diaduk kopinya, masih pagi udah
marah-marah aja.”
“Hmmngg.” Lala pun mulai membuka mata dari tidur setelah
sholat subuh. “Hahh masih pagi udah ada polusi suara di rumah sendiri.” Ya,
keluarga nya memang bukan seperti keluarga pada umumnya. Hampir setiap pagi ia
dibangunkan oleh bentakan orang tuanya, terutama bapaknya yang membentak
ibunya, kadang juga membentak Lala, yang menurut bapaknya, ia adalah anak
malas. ‘Ting..’ suara hp Lala yang berisi pesan dari grup kelompok kuliahnya
yang berencana mengerjakan tuganya di rumah Aqia. Rumah yang menjadi semacam
basecamp untuk geng mereka, Lala, Aqia, Eka, dan Rendi. Yang sekarang menjelma
menjadi kelompok tugas.
‘Eh nanti jadi ya ngerjain tugas di rumahku.’ Isi pesan
Aqia. ‘Okee jam set 10 kan nanti?’ Balasan dari Eka. ‘Iya Kaa, jam setengah 10.
Kalau mau dateng duluan ga masalah.’ Balasan Aqia. “Ah iya aku ada tugas
kelompok bareng mereka, mau langsung siap-siap ah.” Gumam Lala sembari bangkit
dari tempat tidurnya. ‘Eh Qia aku nanti otw lebih cepet ya, sekarang mau siap-siap
nih. See you guys.’ Pesan Lala kepada Aqia. Lala pun berjalan mengambil
handuk setengah basah yang menggantung dibalik pintu kamarnya dan bergegas
mandi bersiap keluar bertemu dengan teman-temannya.
Selesai ia membersihkan badan, ia pun memnita izin ibunya
untuk pergi keluar mengerjakan tugas. “Lala izin ke rumah Aqia ya bu, mau
ngerjain tugas disana.” Ucapnya. “Loh sepagi ini? Kamu ga sarapan dulu La?”
Sahut ibunya sambil mengupas bahan-bahan masakan untuk ia masak nanti. “Engga
bu, nanti aku beli di jalan aja. Mau ngerjain dari pagi soalnya.” Jawab Lala
yang memang sudah siap dengan menggendong tas berisi laptop dan bukunya itu.
“Oh gitu, ya udah hati-hati ya kamu, jangan lupa makan.” Jawab ibunya. “Iya bu,
aku berangkat ya. Assalamualaikum.” Pamitnya kepada ibunya, yang masih memegang
pisau dapur sembari mengupas bawang. “Waalaikumsalam La.” Jawab ibunya. Lala
pun berjalan keluar, mengeluarkan motornya dari ruang tengah. Melewati bapaknya
yang sedang duduk di teras rumah ditemani kopi bentakan pagi tadi. “Mau kemana
kamu?” Tanya bapaknya dengan raut muka garangnya. “Mau ngerjain tugas pak.”
Jawab Lala. “Halah mau main sama temen-temen kamu itu kan kamu? Kuliah yang
bener, udah dibiayain mahal kamu.” Ucap bapaknya sambil menyeruput kopinya yang
sudah habis seperempat gelas “Dia mau ngerjain tugas pak! Jangan ngomong
macem-macem” Sahut ibunya dari dapur dengan nada yang sedikit lebih kencang
dari biasanya. “Lala berangkat pak.” Ucap Lala yang kemudian langsung memakai
helm dan berangkat, tanpa tau apa jawaban bapaknya itu.
“Assalamualaikum Qia. Qia... Aku udah sampe nih” Ucap
Lala di depan gerbang masuk rumah Aqia. “Eh kamu udah dateng La, sini masuk.”
Jawab Aqia yang membukakan pintu gerbangnya itu. “Yang lain belum dateng Qia?”
Tanya Lala sambil mendorong motornya ke tempat parkiran. “Belum nih, Eka sih
tadi bilang lagi siap-siap, palingan baru mandi tuh anak, haha.” Jawab Aqia.
“Hahaha iya biasanya gitu sih, terus si Rendi gimana?” Tanya Lala. “Ah anak itu
paling belum bangun, digrup aja belum muncul kan dia.” Jawab Aqia dengan nada
sedikit ketus karena memang Rendi adalah orang yang sering kali telat. “Eh itu
bungkusan apa La?” Tanya Aqia sambil menunjuk kantong keresek yang menggantung
di motor Lala. “Oh ini sarapan aku Qia. Tadi belum sempet sarapan soalnya
haha.” Jawab Lala. “Oh gitu.. Ayo masuk sekalian makan di dalam.” Ajak Aqia.
“Yuk.” Ucap Lala. Mereka pun menunggu teman-temannya yang lain sambil mengobrol
dan menyantap nasi kuning yang ia beli di jalan tadi.
“Assalamualaikum, misi.. minta amalnya mbak.”
“Waalaikumsalam, maaf aja ya- Ahh ternyata lu Rendi.. Gua
kira tukang minta amal tadi. Oh lu bareng Eka?” Ucap Aqia yang sedikit kaget
dengan kemuculan dua temannya ini dan juga karena jahilan Rendi tadi. “Iya nihh
si Eka minta jemput tadi, mau bareng gua katanya. Iya kan? Haha.” Jawab Rendi
sembil menunggu dibukakan gerbang oleh Aqia. “Ihh apaan ga gitu ya.. Iya aku
bareng bocah ini karena tau dia pasti belum bangun dan bakal telat jadi aku
telpon dia biar bangun dan sekalian berangkat bareng.” Jawab Eka sambil memukul
pelan Rendi yang berdiri disampingnya sambil memegangi motornya. “Oh seperti
itu.. Mari masuk mas pencari amal. Hahaha.” Ucap Aqia yang mengajak masuk
temannya ini. “Hemm iya-iya.” Jawab Rendi.
“Loh
di dalam udah ada Lala? Tanya Eka yang berjalan duluan dengan Aqia
menginggalkan Rendi yang berusaha memarkirkan motornya. “Iya dia tadi datang
jam 9 kalau ga salah.” Jawab Aqia. “Oh pagi juga ya ternyata.” Ucap Aqia. “Ehh
tunggu dong, malah ditinggal.” Kata Rendi sambil buru-buru menyusul.
“Hey
hey Lala, malah bengong lu ya, ga kaya biasa banget.” Ucap Rendi ketika melihat
Lala tengah bengong memandang hp nya sendiri. “Eh lu udah dateng Ren? Kamu juga
Ka?” Sahut Lala yang sedikit kaget karena terpecahnya lamunan tenangnya oleh
suara Rendi. “Iya tuh ternyata yang tadi dikira tukang minta amal itu si
Rendi.” Jawab Aqia. “Kalian dateng barengan? Cie cie..” Goda Lala kepada dua
temannya. “Ah engga La, Tadi aku telpon dia dulu sampe dia bangun sekalian mau
bareng biar dia ga telat lagi.” Jawab Eka. “Ohh seperti itu..” Ucap Lala. “Ya
udah yuk kita mulai ngerjain tugasnya” Ajak Aqia.
Mereka
pun mengerjakan tugas mereka. Tentu saja diselingi banyolan receh Rendi. Tapi
tidak seperti biasanya, kali ini Lala terlihat sedikit murung. Biasanya ia
menanggapi dan ikut memberikan jokes recehnya, namun kali ini tidak.
“Eh
La, kamu kenapa? Ada apa?” Tanya Eka. “Loh emang aku kenapa?” Jawab Lala dengan
nada yang sedikit bingung. “Iya La, kamu dari awal dateng tadi keliatan agak
sedikit murung tau.” Ucap Aqia yang sadar akan perbedaan temannya ini. “Engga
ah, aku ga kenapa-kenapa kok guys.” Jawab Lala dengan sedikit selengean.
“Iya La, lu agak beda hari ini. Daritadi aja ga nyautin jokes gua.”
Rendi pun mengatakan hal yang sama. Lala memang bukan anak yang selalu mengerti
apa yang ia sendiri rasakan. Kadang ia baru sadar setelah ada orang yang bilang
hal itu. “Hemm.. Perasaan ga kenapa-kenapa deh aku.” Ucap Lala yang masih
sedikit bingung, dan ia mulai mengingat-ingat apa yang berbeda hari ini.
“Kamu
kenapa dateng nya pagi tadi La? Walaupun biasanya tepat waktu juga sih.” Tanya
Aqia. “Oh ya kaya biasa, tadi pagi aku kebangun karna omelan bapak ku ke ibu.”
Jawab Lala. “Loh kenapa masih pagi udah ngomel?” Tanya Rendi menyauti jawaban
Lala. “Ya biasa Ren. emang gitu. Keseharian aku ya gitu. Tadi pagi bapak ngomel
karena kopi.” Jawab Lala dengan nada yang sedikit terdengar lirih. “La, kamu
bener ga kenapa-kenapa? Kamu hampir setiap hari dengerin orang tua kamu ribut
kan.” Tanya Eka yang tangannya tergeletak diatas laptop Acerya itu, berhenti
mengetik. “Aku sih ngerasanya ga kenapa-kenapa, tapi iya kalau dipikir-pikir
aku belakangan ini jadi agak cepat suntuk dan muram. Mood ku pun naik turun
terus kan.” Jawab Lala yang mulai menyadari apa yang salah dengannya. “Nah kan,
kamu itu kayanya mulai capek sih La, alam bawah sadar kamu yang mulai cape dan
pengaruhnya jadi kaya yang kamu bilang itu.” Sahut Eka. Seketika dua temannya
yang lain pun menghentikan ketikan-ketikan mereka dan mulai berfokus pada Lala.
Pusat
perhatian pun bergeser dari yang semula tugas yang tengah mereka kerjakan di
ruang tengah itu, duduk lesehan mengelilingi meja, menjadi terpusat ke Lala. “La,
kamu beneran ga kenapa-kenapa?” Tanya Aqia. “Aku ga tau Qia.. Huhu..” Jawab Lala
yang bingungnya semakin bertambah. “Ini juga kalian kenapa malah berhenti
ngerjain ngetiknya sih? Tiba-tiba diem kaya ada lampu merah aja deh.”
Sambungnya mencoba mencairkan pembicaraan. “Eh teletubbies lu tuh lagi
diperhatiin ya sekarang ini, malah ngelawak.” Sahut Rendi. “Ihh iya-iya Ren. Ga
usah marah-marah gitu kali.” Ucap Lala. “Yee siapa yang marah.” Sahut Rendi
dengan nada sedikit mengejek. “Coba lu pikirin. Lu tanya ke diri lu sendiri. Lu
itu kenapa? Apa yang lagi lu rasain? Lu butuh apa sekarang? Kita ga tau lu
kenapa kalau lu sendiri juga ga tau.” Sambung Rendi. “Iya La, coba tanya ke
diri kamu sendiri kamu itu sebenernya kenapa?” Sahut Eka menanggapi Rendi. “Hmm..
Iya-iya yuk sambil ngetik tugasnya biar cepet selesai juga.” Jawab Lala. “Iya
oke tapi kamu juga dipikirin ya kamu itu kenapa.” Ucap Eka.
Mereka
pun melanjutkan tugas mereka sampai akhirnya selesai.
“Jadi
kamu kenapa La?” Tanya Eka sembari merapikan laptopnya. “Kayanya iya aku ini
cape emosional. Setiap aku pulang pasti orang tua ku lagi ribut, atau kalaupun
ga lagi ribut, ga lama lagi bakalan ribut. Aku kayanya cape sendiri deh.” Jawab
Lala dengan pandangan yang lurus namun mengawang-awang. “Pulang bagi kamu tuh malah
bikin cape ya La?” Tanya Aqia. “Iya hehe. Pulang buat aku ga kaya kebanyakan
orang atau kalian sih kayanya. Buat aku itu malah kaya momok. Aku takut pulang.
Karena di rumah malah bikin makin cape, bukan menyembuhkan capenya malah bikin
makin numpuk, hehe.” Jawab Lala dengan pandangan yang masih mengawang-awang, menahan
air matanya agar tidak jatuh. “Lala...” Ucap Aqia sambil merangkak ke arah
Lala, memeluknya. “Kamu ga sendirian kok. Kamu punya kita-kita. Kalau kamu
butuh temen kita pasti dateng kok La. Jangan nyerah ya. Kamu itu kuat.”
Lanjutnya sambil memeluk Lala. Eka pun mendekati Lala dan memeluknya. Memeluk
sama eratnya dengan Aqia yang membuat Lala sadar bahwa ia menemukan teman yang
sangat baik, yang peduli dengannya. Dan pada saat itu, tangis pun pecah. “Iya
La, lu ga sendirian kok, lu punya kita yang mau nemenin lu, yang mau denger
semua cerita lu, yang mau denger jokes-jokes receh lu yang sebenernya ga
lucu itu. Haha.” Ucap Rendi sambil mengusap-usap kepala temannya. Tangis pun
semakin pecah. Lala menangis seperti anak kecil. Menumpahkan semua rasa lelah yang
selama ini dipendamnya, yang selama ini dirasakannya sendiri.
“Eka,
Qia, Ren, makasih ya..” Ucap Lala dengan suara tersedu-sedu. “Makasih kalian udah
mau temenan sama aku, maksih kalian mau denger semua cerita aku, curhatan aku,
makasih kalian selalu nguatin aku. Bersyukur banget aku punya temen kaya
kalian.” Lanjutnya. “La, tempat pulang ga selalu ke rumah kok. Pulang itu ke tempat
yang bikin kamu nyaman, yang bisa jadi tempat sandaran kamu, yang bisa jadi tempat
kamu numpahin semuanya. Bener kata Rendi tadi, kalau ada apa-apa dan butuh
temen hubungi kita-kita aja ya. Kalau kamu lagi cape, lagi suntuk, hubungi kita
aja.” Ucap Eka yang mulia melepas pelukannya dan mengusap air mata Lala. “Iya
La, kamu bisa jadiin kita tempat pulang kamu. Kalau kamu butuh kita, chat aja
ya.” Sambung Aqia.
“Sekali
lagi makasih ya semuanya.. Makasih.. Aku ga tau bisa sampai kapan nahan ini
semua kalau tanpa kalian. Aku mungkin bisa samp ke RSJ kalau ga ada kalian.
Makasih ya..” Ucap Lala dengan suaranya yang masih tersedu-sedu setelah menangis.
Mereka pun saling mengusap air mata masing-masing. Kecuali Rendi yang duduk diam menahan tangisnya, gengsi katanya.